Translate

Senin, 06 Mei 2013

Istilah-Istilah Dalam Gempa Bumi

 

A. GEMPA BUMI

adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi yang biasa disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng bumi). Kata gempa bumi juga digunakan untuk menunjukkan daerah asal terjadinya kejadian gempa bumi tersebut. Meskipun bumi padat, tetapi selalu bergerak dan gempa bumi terjadi apabila tekanan yang terjadi karena pergerakan itu sudah terlalu besar untuk dapat ditahan. Kalau digambarkan seperti layaknya gelang karet ditarik dan dilepaskan dengan tiba-tiba.

a. Berdasarkan penyebabnya

1. gempa tektonik, yaitu gempa yang disebabkan pergeseran lapisan batuan (dislokasi) berupa patahan/retakan.

2. gempa vulkanik, yaitu gempa yang disebabkan adanya letusan gunung api

3. gempa runtuhan, yaitu gempa yang disebabkan runtuhnya atap gua yan terdapat di dalam lithosfer. Contoh; runtuhnya terowongan tambang dan gua kapur.

b. Berdasarkan bentuk episentrumnya

1. gempa linier yaitu gempa yang episentrumnya berbentuk garis (linier). Pada umumnya gempa tektonik merupakan jenis gempa linier.

2. gempa sentral yaitu episentrum gempanya berupa titik. Gempa vulkanik dan gempa runtuhan termasuk episentrum titik.

c. Berdasarkan letak hiposentrumnya

1. gempa dalam, jika letak hiposentrumnya antara 300 - 700 km

2. gempa intermidier, jika letak hiposentrumnya 100 - 300 km

3. gempa dangkal, jika letak hiposentrumnya kurang dari 100 km



B. ISTILAH ISTILAH DALAM GEMPA BUMI :

1. Seismologi : ilmu yang mempelajari gempa bumi

2. Seismograf : alat pencatat gempa

3. Seismogram : hasil gambaran seimograf yang berupa garis-garis patah

4. Hiposentrum : pusat gempa di dalam bumi

5. Episentrum : tempat di permukaan bumi/permukaan laut yang tepat di atas hiposentrum. Pusat gempa di permukaan bumi.

6. Homoseista : garis khayal pada permukaan bumi yang mencatat gelombang gempa primer pada waktu yang sama

7. Pleistoseista : garis khayal yang membatasi sekitar episentrum yang mengalami kerusakan terhebat akibat gempa

8. Isoseista : garis pada peta yang menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai kerusakan fisik yang sama

9. Mikroseista : gempa yang terjadi sangat halus/lemah dan dapat diketahui hanya dengan menggunakan alat gempa

10. Makroseista : gempa yang terjadi sangat besar kekuatannya, sehingga tanpa menggunakan alat mengetahui jika terjadi gempa.



C. SKALA RICHTER

Kekuatan Gempa di ukur dengan Skala Richter atau SR, yang didefinisikan sebagai logaritma (basis 10) dari amplitudo maksimum, yang diukur dalam satuan mikrometer, dari rekaman gempa oleh instrumen pengukur gempa (seismometer) Wood-Anderson, pada jarak 100 km dari pusat gempanya. Sebagai contoh, misalnya kita mempunyai rekaman gempa bumi (seismogram) dari seismometer yang terpasang sejauh 100 km dari pusat gempanya, amplitudo maksimumnya sebesar 1 mm, maka kekuatan gempa tersebut adalah log (10 pangkat 3 mikrometer) sama dengan 3,0 skala Richter. Skala ini diusulkan oleh fisikawan Charles Richter.



Untuk memudahkan orang dalam menentukan skala Richter, tanpa melakukan perhitungan matematis yang rumit, dibuatlah tabel sederhana seperti berikut ini :

a. < 2.0 SR : Gempa kecil , tidak terasa

b. 2.0 - 2.9 SR : Tidak terasa, namun terekam oleh alat

c. 3.0 - 3.9 SR : Seringkali terasa, namun jarang menimbulkan kerusakan

d. 4.0 - 4.9 SR : Dapat diketahui dari bergetarnya perabot dalam ruangan, suara gaduh bergetar. Kerusakan tidak terlalu signifikan.

e. 5.0 - 5.9 SR : Dapat menyebabkan kerusakan besar pada bangunan pada area yang kecil. Umumya kerusakan kecil pada bangunan yang didesain dengan baik

f. 6.0 - 6.9 SR : Dapat merusak area hingga jarak sekitar 160 km

g. 7.0 - 7.9 SR : Dapat menyebabkan kerusakan serius dalam area lebih luas

h. 8.0 - 8.9 SR : Dapat menyebabkan kerusakan serius hingga dalam area ratusan mil

i. 9.0 - 9.9 SR : Menghancurkan area ribuan mil

j. > 10.0 SR : Belum pernah terekam



Perlu diingat bahwa perhitungan magnitudo gempa tidak hanya memakai teknik Richter seperti ini. Kadang-kadang terjadi kesalahpahaman dalam pemberitaan di media tentang magnitudo gempa ini karena metode yang dipakai kadang tidak disebutkan dalam pemberitaan di media, sehingga bisa jadi antara instansi yang satu dengan instansi yang lainnya mengeluarkan besar magnitudo yang tidak sama.



D. SIAPA YANG BERTANGGUNGJAWAB MENANGANI BENCANA..??

Melalui Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2005 dibentuklah BADAN KOORDINASI NASIONAL PENANGANAN BENCANA (Bakornas PB). Untuk melaksanakan penanganan bencana dan kedaruratan di daerah dapat dibentuk Satuan Koordinasi Pelaksana Penanganan Bencana yang selanjutnya disebut dengan SATKORLAK PB di tingkat Propinsi yang diketuai oleh Gubernur, sedangkan Satuan Pelaksana Penanganan Bencana yang selanjutnya disebut dengan SATLAK PB untuk tingkat Kabupaten/Kota yang diketuai oleh Bupati/Walikota. Namun seluruh masyarakat Indonesia, (terutama yang telah cukup umur dan akan lebih baik apabila memiliki dasar pendidikan rescue), bisa bergabung untuk menjadi relawan.

Tindakan-tindakan yang dilakukan :

a. Mitigasi  : adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

b. Rehabilitasi : adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pascabencana.

c. Rekonstruksi : adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pascabencana.

d. Tanggap darurat bencana : adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana.



E. SEKILAS TENTANG BMKG & GFZ POSTDAM :

1. BADAN METEROROLOGI KLIMATOLOGI & GEOFISIKA INDONESIA (BMKG)

BMKG mempunyai status sebuah Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND), dipimpin oleh seorang Kepala Badan. BMKG mempunyai tugas : melaksanakan tugas pemerintahan di bidang Meteorologi, Klimatologi, Kualitas Udara dan Geofisika sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Dengan Tujuan :

a. Mengamati dan memahami fenomena Meteorologi, Klimatologi, Kualitas udara dan Geofisika.

b. Menyediakan data dan informasi Meteorologi, Klimatologi, Kualitas udara dan Geofisika yang handal dan terpercaya

c. Melaksanakan dan mematuhi kewajiban internasional dalam bidang Meteorologi, Klimatologi, Kualitas udara dan Geofisika.

d. Mengkoordinasikan dan memfasilitasi kegiatan di bidang Meteorologi, Klimatologi, Kualitas udara dan Geofisika.


2. GFZ POSTDAM (German Research Centre for Geosciences)

(Helmholtz Potsdam GFZ, Pusat Penelitian Geolfisika Jerman)

GFZ Postdam adalah pusat penelitian nasional untuk Ilmu Bumi yang terdapat di kota Postdam Jerman. GFZ Postdam menyelidiki "Sistem Bumi" di lokasi yang terdapat di seluruh dunia dengan semua keadaan geologi, fisik, kimia dan proses biologis yang terjadi pada permukaannya dan di bagian dalamnya. Lembaga ini tidak hanya menyelidiki proses dalam planet itu sendiri, tetapi juga mempelajari banyak interaksi antara zat padat bumi, atmosfer, hidrosfer dan penghuni dunia. Sekaligus pula menganalisis bagaimana manusia, yang hidup di permukaan bumi, mempengaruhi planet gejala alam. Singkatnya, penelitian GFZ berhubungan dengan seluruh "Sistem Bumi" termasuk pengaruh umat manusianya.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar