Translate

Jumat, 27 Desember 2013

Jawa Barat


Jawa Barat adalah sebuah provinsi di Indonesia. Ibu kotanya berada di Kota Bandung. Perkembangan Sejarah menunjukkan bahwa Provinsi Jawa Barat merupakan Provinsi yang pertama dibentuk di wilayah Indonesia (staatblad Nomor : 378). Provinsi Jawa Barat dibentuk berdasarkan UU No.11 Tahun 1950, tentang Pembentukan Provinsi Jawa Barat. Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia. Bagian barat laut provinsi Jawa Barat berbatasan langsung dengan Daerah Khusus Ibukota Jakarta, ibu kota negara Indonesia. Pada tahun 2000, Provinsi Jawa Barat dimekarkan dengan berdirinya Provinsi Banten, yang berada di bagian barat. Saat ini terdapat wacana untuk mengubah nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Pasundan, dengan memperhatikan aspek historis wilayah ini.Namun hal ini mendapatkan penentangan dari wilayah Jawa Barat lainnya seperti Cirebon dimana tokoh masyarakat asal Cirebon menyatakan bahwa jika nama Jawa Barat diganti dengan nama Pasundan seperti yang berusaha digulirkan oleh Bapak Soeria Kartalegawa tahun 1947 di Bandung maka Cirebon akan segera memisahkan diri dari Jawa Barat[6], karena nama "Pasundan" berarti (Tanah Sunda) dinilai tidak merepresentasikan keberagaman Jawa Barat yang sejak dahulu telah dihuni juga oleh Suku Betawi dan Suku Cirebon serta telah dikuatkan dengan keberadaan Peraturan Daerah (Perda) Jawa Barat No. 5 Tahun 2003 yang mengakui adanya tiga suku asli di Jawa Barat yaitu Suku Betawi yang berbahasa Melayu dialek Betawi, Suku Sunda yang berbahasa Sunda dan Suku Cirebon yang berbahasa Bahasa Cirebon (dengan keberagaman dialeknya).

Sejarah
Temuan arkeologi di Anyer menunjukkan adanya budaya logam perunggu dan besi sejak sebelum milenium pertama. Gerabah tanah liat prasejarah zaman Buni (Bekasi kuno) dapat ditemukan merentang dari Anyer sampai Cirebon.[rujukan?]Jawa Barat pada abad ke-5 merupakan bagian dari Kerajaan Tarumanagara.[rujukan?] Prasasti peninggalan Kerajaan Tarumanagara banyak tersebar di Jawa Barat. Ada tujuh prasasti yang ditulis dalam aksara Wengi (yang digunkan dalam masa Palawa India) dan bahasa Sansakerta yang sebagian besar menceritakan para raja Tarumanagara.[rujukan?]
Setelah runtuhnya kerajaan Tarumanagara, kekuasaan di bagian barat Pulau Jawa dari Ujung Kulon sampai Kali Serayu dilanjutkan oleh Kerajaan Sunda[rujukan?]. Salah satu prasasti dari zaman Kerajaan Sunda adalah prasasti Kebon Kopi II yang berasal dari tahun 932. Kerajaan sunda beribukota di Pakuan Pajajaran (sekarang kota Bogor).[rujukan?]
Pada abad ke-16, Kesultanan Demak tumbuh menjadi saingan ekonomi dan politik Kerajaan Sunda. Pelabuhan Cerbon (kelak menjadi Kota Cirebon) lepas dari Kerajaan Sunda karena pengaruh Kesultanan Demak. Pelabuhan ini kemudian tumbuh menjadi Kesultanan Cirebon yang memisahkan diri dari Kerajaan Sunda. Pelabuhan Banten juga lepas ke tangan Kesultanan Cirebon dan kemudian tumbuh menjadi Kesultanan Banten.
Untuk menghadapi ancaman ini, Sri Baduga Maharaja, raja Sunda saat itu, meminta putranya, Surawisesa untuk membuat perjanjian pertahanan keamanan dengan orang Portugis di Malaka untuk mencegah jatuhnya pelabuhan utama, yaitu Sunda Kalapa, kepada Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Demak. Pada saat Surawisesa menjadi raja Sunda, dengan gelar Prabu Surawisesa Jayaperkosa, dibuatlah perjanjian pertahanan keamanan Sunda-Portugis, yang ditandai dengan Prasasti Perjanjian Sunda-Portugal, ditandatangani dalam tahun 1512. Sebagai imbalannya, Portugis diberi akses untuk membangun benteng dan gudang di Sunda Kalapa serta akses untuk perdagangan di sana. Untuk merealisasikan perjanjian pertahanan keamanan tersebut, pada tahun 1522 didirikan suatu monumen batu yang disebut padrão di tepi Ci Liwung.
Meskipun perjanjian pertahanan keamanan dengan Portugis telah dibuat, pelaksanaannya tidak dapat terwujud karena pada tahun 1527 pasukan aliansi Cirebon - Demak, dibawah pimpinan Fatahilah atau Paletehan, menyerang dan menaklukkan pelabuhan Sunda Kalapa. Perang antara Kerajaan Sunda dan aliansi Cirebon - Demak berlangsung lima tahun sampai akhirnya pada tahun 1531 dibuat suatu perjanjian damai antara Prabu Surawisesa dengan Sunan Gunung Jati dari Kesultanan Cirebon.
Dari tahun 1567 sampai 1579, dibawah pimpinan Raja Mulya, alias Prabu Surya Kencana, Kerajaan Sunda mengalami kemunduran besar dibawah tekanan Kesultanan Banten. Setelah tahun 1576, kerajaan Sunda tidak dapat mempertahankan Pakuan Pajajaran, ibu kota Kerajaan Sunda, dan akhirnya jatuh ke tangan Kesultanan Banten. Zaman pemerintahan Kesultanan Banten, wilayah Priangan (Jawa Barat bagian tenggara) jatuh ke tangan Kesultanan Mataram.
Jawa Barat sebagai pengertian administratif mulai digunakan pada tahun 1925 ketika Pemerintah Hindia Belanda membentuk Provinsi Jawa Barat. Pembentukan provinsi itu sebagai pelaksanaan Bestuurshervormingwet tahun 1922, yang membagi Hindia Belanda atas kesatuan-kesatuan daerah provinsi. Sebelum tahun 1925, digunakan istilah Soendalanden (Tatar Soenda) atau Pasoendan, sebagai istilah geografi untuk menyebut bagian Pulau Jawa di sebelah barat Sungai Cilosari dan Citanduy yang sebagian besar dihuni oleh penduduk yang menggunakan bahasa Sunda sebagai bahasa ibu.
Pada 17 Agustus 1945, Jawa Barat bergabung menjadi bagian dari Republik Indonesia.
Pada tanggal 27 Desember 1949 Jawa Barat menjadi Negara Pasundan yang merupakan salah satu negara bagian dari Republik Indonesia Serikat sebagai hasil kesepakatan tiga pihak dalam Konferensi Meja Bundar: Republik Indonesia, Bijeenkomst voor Federaal Overleg (BFO), dan Belanda. Kesepakatan ini disaksikan juga oleh United Nations Commission for Indonesia (UNCI) sebagai perwakilan PBB.
Jawa Barat kembali bergabung dengan Republik Indonesia pada tahun 1950.

Perekonomian
Jawa Barat selama lebih dari tiga dekade telah mengalami perkembangan ekonomi yang pesat. Saat ini peningkatan ekonomi modern ditandai dengan peningkatan pada sektor manufaktur dan jasa. Disamping perkembangan sosial dan infrastruktur, sektor manufaktur terhitung terbesar dalam memberikan kontribusinya melalui investasi, hampir tigaperempat dari industri-industri manufaktur non minyak berpusat di sekitar Jawa Barat.PDRB Jawa Barat pada tahun 2003 mencapai Rp.231.764 milyar (US$ 27.26 Billion) menyumbang 14-15 persen dari total PDB nasional, angka tertinggi bagi sebuah Provinsi. Bagaimanapun juga karena jumlah penduduk yang besar, PDB per kapita Jawa Barat adalah Rp. 5.476.034 (US$644.24) termasuk minyak dan gas, ini menggambarkan 82,4 persen dan 86,1 persen dari rata-rata nasional. Pertumbuhan ekonomi tahun 2003 adalah 4,21 persen termasuk minyak dan gas 4,91 persen termasuk minyak dan gas, lebih baik dari Indonesia secara keseluruhan. (US$1 = Rp. 8.500,-).

Geografi

Provinsi Jawa Barat berada di bagian barat Pulau Jawa. Wilayahnya berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Jawa Tengah di timur, Samudera Hindia di selatan, serta Banten dan DKI Jakarta di barat.

Penduduk

Sebagian besar penduduk Jawa Barat adalah Suku Sunda, yang bertutur menggunakan Bahasa Sunda. Di Kabupaten Cirebon, Kota Cirebondan Kabupaten Kuningan dituturkan bahasa Jawa dialek Cirebon, yang mirip dengan Bahasa Banyumasan dialek Brebes. Di daerah perbatasan dengan DKI Jakarta seperti sebagian Kota Bekasi, Kecamatan Tarumajaya dan Babelan (Kabupaten Bekasi) dan Kota Depok bagian utara dituturkan Bahasa Melayu dialek Betawi. Jawa Barat merupakan wilayah berkarakteristik kontras dengan dua identitas; masyarakat urban yang sebagian besar tinggal di wilayah JABODETABEK (sekitar Jakarta) dan masyarakat tradisional yang hidup di pedesaan yang tersisa.Pada tahun 2002, populasi Jawa Barat mencapai 37.548.565 jiwa, dengan rata-rata kepadatan penduduk 1.033 jika/km persegi.Dibandingkan dengan angka pertumbuhan nasional (2,14% per tahun), Provinsi Jawa Barat menduduki peringkat terendah, dengan 2,02% per tahun.

Penggunaan bahasa daerah kini mulai dipromosikan kembali. Sejumlah stasiun televisi dan radio lokal kembali menggunakan bahasa daerah sebagai bahasa pengantar pada beberapa acaranya, terutama berita dan talk show, misalnya Bandung TV memiliki program berita menggunakan Bahasa Sunda serta Cirebon Radio yang menggunakan ragam Bahasa Cirebon Bagongan maupun Bebasan. Begitu pula dengan media massa cetak yang menggunakan bahasa sunda, seperti majalah Manglé dan majalah Bina Da'wah yang diterbitkan oleh Dewan Da'wah Jawa Barat.

Iklim
Iklim di Jawa Barat adalah tropis, dengan suhu 9 °C di Puncak Gunung Pangrango dan 34 °C di Pantai Utara, curah hujan rata-rata 2.000 mm per tahun, namun di beberapa daerah pegunungan antara 3.000 sampai 5.000 mm per tahun.

Topografi
Ciri utama daratan Jawa Barat adalah bagian dari busur kepulauan gunung api (aktif dan tidak aktif) yang membentang dari ujung utara Pulau Sumatera hingga ujung utara Pulau Sulawesi. Daratan dapat dibedakan atas wilayah pegunungan curam di selatan dengan ketinggian lebih dari 1.500 m di atas permukaan laut, wilayah lereng bukit yang landai di tengah ketinggian 100 1.500 m dpl, wilayah dataran luas di utara ketinggian 0 . 10 m dpl, dan wilayah aliran sungai.

Demografi

Jumlah penduduk Provinsi Jawa Barat adalah sebanyak 43.053.732 jiwa yang mencakup mereka yang bertempat tinggal di daerah perkotaan sebanyak 28.282.915 jiwa (65,69 persen) dan di daerah perdesaan sebanyak 14.770.817 jiwa (34,31 persen). Persentase distribusi penduduk menurut kabupaten/kota bervariasi dari yang terendah sebesar 0,41 persen di Kota Banjar hingga yang tertinggi sebesar 11,08 persen di Kabupaten Bogor.

Penduduk laki-laki Provinsi Jawa Barat sebanyak 21.907.040 jiwa dan perempuan sebanyak 21.146.692 jiwa. Seks Rasio adalah 104, berarti terdapat 104 laki-laki untuk setiap 100 perempuan. Seks rasio menurut kabupaten/kota yang terendah adalah Kabupaten Ciamis sebesar 98 dan tertinggi adalah Kabupaten Cianjur sebesar 107. Seks Rasio pada kelompok umur 0-4 sebesar 106, kelompok umur 5-9 sebesar 106, kelompok umur lima tahunan dari 10 sampai 64 berkisar antara 97 sampai dengan 113, dan dan kelompok umur 65-69 sebesar 96.

Median umur penduduk Provinsi Jawa Barat tahun 2010 adalah 26,86 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa penduduk Provinsi Jawa Barat termasuk kategori menengah. Penduduk suatu wilayah dikategorikan penduduk muda bila median umur < 20, penduduk menengah jika median umur 20-30, dan penduduk tua jika median umur > 30 tahun.

Rasio ketergantungan penduduk Provinsi Jawa Barat adalah 51,20. Angka ini menunjukkan bahwa setiap 100 orang usia produktif (15-64 tahun) terdapat sekitar 51 orang usia tidak produkif (0-14 dan 65+), yang menunjukkan banyaknya beban tanggungan penduduk suatu wilayah. Rasio ketergantungan di daerah perkotaan adalah 48,84 sementara di daerah perdesaan 55,92.

Manufaktur
Provinsi Jawa Barat memiliki tingkat konsentrasi yang tinggi untuk manufaktur termasuk diantaranya elektronik, industri kulit, pengolahan makanan, tekstil, furnitur dan industri pesawat. Juga panas bumi, minyak dan gas, serta industri petrokimia menjadi andalan Jawa Barat. Penyumbang terbesar terhadap GRDP Jawa Barat adalah sektor manufaktur (36,72%), hotel, perdagangan dan pertanian (14,45%), totalnya sebesar 51,17%. Terlepas dari adanya krisis, Jawa Barat masih menjadi pusat dari industri tekstil modern dan garmen nasional, berbeda dengan daerah lain yang menjadi pusat dari industri tekstil tradisional. Jawa Barat menymbangkan hampir seperempat dari nilai total hasil produksi Indonesia di sektor non Migas. Ekspor utama tekstil, sekitar 55,45% dari total ekspor jawa Barat, yang lainnya adalah besi baja, alas kaki, furnitur, rotan, elektronika, komponen pesawat dan lainnya.

Pertanian: Lahan dan Perairan
Dikenal sebagai salah satu 'lumbung padi' nasional, hampir 23 persen dari total luas 29,3 ribu kilometer persegi dialokasikan untuk produksi beras. Tidak dipungkiri lagi, Jawa Barat merupakan 'Rumah Produksi' bagi ekonomi Indonesia, hasil pertanian Provinsi Jawa Barat menyumbangkan 15 persen dari nilai total pertanian Indonesia.Hasil tanaman pangan Jawa Barat meliputi beras, kentang manis, jagung, buah-buahan dan sayuran, disamping itu juga terdapat komoditi seperti teh, kelapa, minyak sawit, karet alam, gula, coklat dan kopi. Perternakannya menghasilkan 120.000 ekor sapi ternak, 34% dari total nasional.

Kelautan dan Perikanan
Jawa Barat berhadapan dengan dua sisi lautan Jawa pada bagian utara dan samudera Hindia di bagian selatan dengan panjang pantai sekitar 1000 km. Berdasarkan letak inilah Provinsi Jawa Barat memiliki potensi perikanan yang sangat besar. Suatu perencanaan terpadu tengah dilaksanakan untuk pengembangan Pelabuhan Cirebon, baik sebagai pelabuhan Pembantu Tanjung Priok Jakarta, maupun sebagai pelabuhan perikanan Jawa Barat yang dilengkapi dengan industri perikanan.Untuk potensi perairan darat, tidak hanya dari sejumlah sungai yang mengalir di Jawa Barat, Tetapi potensi ini juga diperoleh dari penampungan air / DAM saguling di Cirata dan DAM Jatiluhur yang selain menghasilkan tenaga listrik juga berguna untuk mengairi area pertanian dan industri perikanan air tawar.

Sumber Daya Manusia: Jumlah Penduduk dan Tenaga Kerja
Dengan jumlah penduduk sekitar 37 juta manusia pada tahun 2003, 16 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Pertumbuhan urbanisasi di Provinsi tumbuh sangat cepat, khususnya disekitar JABODETABEK (sekitar Jakarta). Jawa Barat memiliki tenaga pekerja berpendididkan berjumlah 15,7 juta orang pada tahun 2001 atau 18 persen dari total nasional tenaga pekerja berpendidikan. Sebagian besar bekerja pada bidang pertanian, kehutanan dan perikanan (31%), pada industri manufaktur (17%), perdagangan, hotel dan restoran (22,5%) dan sektor pelayanan (29%).

Minyak-Mineral dan Geothermal
Minyak dapat ditemukan di sepanjang Laut Jawa, utara Jawa Barat, sementara cadangan geothermal (panas bumi) terdapat di beberapa derah di Jawa Barat. Tambang lain sepert Batu gamping, andesit, marmer, tanah liat merupakan pertambangan mineral yang dapat ditemukan, termasuk mineral lain yang cadangan depositnya sangat potensial, Emas yang dikelola PT. Aneka Tambang, potensinya sebesar 5,5 million ton, dan menghasilkan 12,1 gram emas per ton.

Pendidikan dan Kebudayaan
Perlindungan dan proses pengembangan Budaya dan Bahasa yang ada di Jawa Barat secara kongrit dimulai dengan adanya Kongres Jawa Barat, kongres Jawa Barat merupakan sebuah wadah berkumpulnya para tokoh masyarakat Jawa Barat untuk membicarakan berbagai persoalan sosial-kemasyarakatan yang ada di Jawa Barat.

Pendidikan Bahasa Cirebon
Keberagaman budaya dan bahasa yang ada di Jawa Barat sempat diuji ketika Kongres Jawa Barat yang ketiga diadakan. Tepatnya di Kota Bandung tanggal 28 Februari 1948, pada saat tersebut salah satu perwakilan masyarakat Jawa Barat dari Suku Sunda yaitu Bapak Soeria Kartalegawa yang juga ketua Parta Rakyat Pasundan (PRP) mengusulkan agar pembicaraan dalam rapat badan perwakilan tersebut (Kongres Jawa Barat) dibolehkan menggunakan Bahasa Sunda, namun kemudian usulan tersebut segera disanggah oleh perwakilan masyarakt Jawa Barat lainnya dari Suku Cirebon yaitu bapak Soekardi, bapak Soekardi menyatakan
“Djika dibolehkan berbitjara dalam bahasa Soenda, orang-orang yang ingin memakai bahasa daerah lainnya poen haroes diizinkan, oempamanja bahasa daerah Tjirebon”.     ”

Kemudian pada periode sebelum tahun 1970-an Pemerintah memasukan Pelajaran Bahasa Jawa dialek Solo / Yogya (Baku) untuk wilayah Cirebon dan Indramayu yang masih termasuk wilayah Provinsi Jawa Barat dimana mayoritas penduduknya menggunakan Bahasa Sunda, namun ternyata guru pengajar dan muridnya tidak memahami kosakata yang digunakan tersebut hingga akhirnya memutuskan untuk tidak mengajarkan Bahasa Jawa dialek Solo / Yogya (Baku) di wilayah Cirebon-Indramayu. Kekosongan pelajaran muatan lokal bahasa daerah ini kemudian berusaha diisi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan memasukan pelajaran bahasa daerah Bahasa Sunda, oleh karenanya pada periode tahun 1970-an bahasa daerah yang diajarkan di wilayah Cirebon - Indramayu adalah Bahasa Sunda karena dianggap akan lebih mudah dimengerti karena para pemakai bahasa Sunda “lebih dekat”. Akan tetapi, ternyata kebijaksanaan itu pun tidak tepat sehingga muncul gerakan untuk menggantinya dengan buku dalam bahasa yang digunakan di wilayahnya, yaitu Bahasa Jawa dialek Cirebon[8], kemudian pada periode tahun selanjutnya pengajaran Bahasa Cirebon ini mulai untuk diajarkan di wilayah "Pakaleran Majalengka" yaitu wilayah utara kabupaten Majalengka yang mayoritas penduduknya merupakan keturunan Prajurit Majapahit, pada wilayah Pakaleran ini kosakata Bahasa Jawa diaek Banyumasan, Bahasa Jawa dialek Bumiayu serta Bahasa Jawa dialek Tegal lebih terasa, contohnya pada penyebutan kata "saya" yang menggunakan sebutan "Nyong" dan bukannya "Ingsun" ataupun "Reang" seperti yang dituturkan di wilayah Cirebon - Indramayu. Namun pengajaran bahasa daerah pada periode tersebut belum memiliki payung hukum, karena Pemerintah Provinsi Jawa Barat sebelumnya mengindikasikan bahwa Jawa Barat merupakan wilayah tanah Sunda, dengan mayoritas suku sunda yang bertutur bahasa sunda, baru setelah tahun 2003 dengan diterbitkannya Peraturan Daerah (Perda) Jawa Barat No. 5 Tahun 2003 tentang Perlindugan dan Pengembangan Budaya dan Bahasa di Jawa Barat yang mengakui adanya tiga suku asli jawa barat yaitu Sunda, Melayu-Betawi dan Cirebon, pengajaran bahasa daerah non-sunda memiliki perlindungan payung hukumnya, adapun pergerakan untuk menjadikan bahasa cirebon sebagai sebuah bahasa yang mandiri yang terlepas dari Bahasa Jawa maupun Sunda dilakukan dengan sebuah Metode yang disebut dengan "Metode Guiter" namun pada perhitunganya metode tersebut baru mencatat sekitar 75% perbedaan antara Bahasa Cirebon dengan Bahasa Jawa dialek Solo / Yogya, sementara untuk diakui sebagai sebuah bahasa mandiri diperlukan sedikitnya 80% perbedaan dengan bahasa terdekatnya[9]. namun secara nyata, penerbitan buku penunjang pelajaran bahasa daerah Cirebon dan Indramayu pada periode tahun 2000-an sudah dilakukan dengan tidak menyebutkan Cirebon sebagai sebuah dialek Bahasa Jawa dan hanya disebutkan "Bahasa Cirebon" dan bukannya "Bahasa Jawa dialek Cirebon" seperti yang dilakukan pada penerbitan "Kamus Bahasa Cirebon" oleh Almarhum Bapak TD Sudjana dan kawan-kawan tahun 2001 dan "Wykarana - Tata Bahasa Cirebon" oleh Bapak Salana tahun 2002.

Pengembangan Pendidikan Bahasa Cirebon
Pengembangan dan Perlindungan Bahasa yang diamanatkan oleh Perda Jawa Barat No. 5 Tahun 2003 dalam kaitannya dengan pengembangan Bahasa Cirebon hanya terjadi disekitar wilayah eks-karesidenan Cirebon yaitu (Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kabupaten Indramayu, sebagian wilayah Kabupaten Majalengka dan sebagian wilayah Kabupaten Kuningan) sementara wilayah kabupaten lainnya yang juga didiami oleh Suku Cirebon seperti wilayah Kabupaten Subang sebelah utara dan sebagian wilayah Kabupaten Karawang di Pesisir Timur hingga tahun 2011 (delapan tahun setelah Perda Jawa Barat No. 5 Tahun 2003) diterbitkan belum juga mendapatkan pengajaran Bahasa Cirebon, adanya ketidakmerataan pengajaran bahasa daerah di Jawa barat ini dikarenakan pemerintah memberikan hak sepenuhnya kepada Pemerintah Daerah di setiap Kabupaten / Kota untuk menentukan sendiri pengajaran bahasa daerah yang ada diwilayahnya.

Pendidikan Bahasa Melayu dialek Betawi

Berbeda halnya dengan pendidikan bahasa cirebon, pendidikan bahasa betawi di wilayah Provinsi Jawa Barat mengalami hal yang lebih parah dari masalah yang dialami oleh bahasa cirebon, pendidikan Bahasa Betawi hingga tahun 2011 (delapan tahun setelah Perda Jawa Barat No. 5 Tahun 2003) diterbitkan sama sekali belum dilakukan di wilayah yang didiami oleh suku betawi yaitu Kota Depok, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, sebagian Kabupaten Bogor wilayah Utara dan sebagian wilayah Kabupaten Karawang sebelah barat, padahal penelitian tentang Bahasa Betawi telah cukup banyak dilakukan, diantaranya :

    K. Ikranegara (1980). Melayu Betawi Grammar. Linguistic Studies in Indonesian and Languages in Indonesia 9. Jakarta: NUSA.
    S. Wallace (1976). Linguistic and Social Dimensions of Phonological Variation in Jakarta Malay. PhD. Dissertation, Cornell University.
    Klarijn Loven (2009). Watching Si Doel: Television, Language and Cultural Identity in Contemporary Indonesia, 477 halaman, ISBN-10: 90-6718-279-6. Penerbit: The KITLV/Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Caribbean Studies at Leiden.
    Lilie M. Roosman (April 2006). Lilie Roosman: Phonetic experiments on the word and sentence prosody of Betawi Malay and Toba Batak, Penerbit: Universiteit Leiden.

Pengembangan Pendidikan Bahasa Melayu dialek Betawi
Hingga tahun 2011 Pemerintah Daerah yang wilayahnya didiami oleh Suku Betawi yaitu Kota Depok, Kota Bekasi, Kabupaten Bekasi, Kabupaten Bogor dan Kabupaten Karawang masih belum mengadakan pendidikan bahasa daerah Bahasa Melayu dialek Betawi dan hanya mengajarkan pendidikan bahasa daerah Bahasa Sunda.

Perguruan Tinggi Negeri

Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Syekh Nurjati, Cirebon
Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN), Sumedang
Institut Pertanian Bogor (IPB), Bogor.
Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung.
Politeknik Kesehatan Kemenkes Bandung (POLTEKKES),Bandung
Politeknik Manufaktur Bandung (POLMAN), d/h Politeknik Mekanik Swis-ITB Bandung, Bandung.
Politeknik Negeri Bandung (POLBAN), d/h Politeknik ITB Bandung,Bandung.
Politeknik Negeri Sukabumi (Polsu), Sukabumi
Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial (STKS Bandung), Bandung.
Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung (STPB), d/h National Hotel Institute (NHI), Bandung.
Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung (STSI Bandung), d/h ASTI Bandung, Bandung.
Sekolah Tinggi Teknologi Tekstil (STTT), d/h Institut Teknologi Tekstil (ITT), Bandung.
Sekolah Tinggi Transportasi Darat (STTD), Bekasi
Universitas Indonesia (UI), Kota Depok.
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN Bandung), Bandung
Universitas Padjadjaran (Unpad), dengan lokasi kampus di,Bandung dan Sumedang.
Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), d/h IKIP Bandung, Bandung.
Universitas Swadaya Gunung Jati, Cirebon

Perguruan Tinggi Swasta

Institut Teknologi Nasional (Itenas), di Bandung
Institut Agama Islam Cipasung (IAIC), di Tasikmalaya
Institut Teknologi Telkom (IT Telkom), di Bandung
Institut Teknologi Harapan Bangsa (ITHB), di Bandung
Universitas Katolik Parahyangan (Unpar),di Bandung
Universitas Langlangbuana (UNLA), di Bandung
Universitas Kristen Maranatha ,di Bandung
Universitas Islam Bandung (Unisba),di Bandung
Universitas Pasundan (Unpas), di Bandung
Universitas Widyatama (UTAMA), di Bandung
Universitas Garut (UNIGA), di Garut
Universitas Islam Nusantara (UNINUS), di Bandung
Universitas Siliwangi (unsil), di Tasikmalaya
Universitas Galuh (unigal), di Ciamis
Universitas Ibn Khaldun Bogor (UIKA), di Bogor
Universitas Pakuan (Unpak), di Bogor
Universitas Komputer Indonesia (Unikom), di Bandung
Universitas Winaya Mukti (Unwim), di Jatinangor Sumedang
Institut Koperasi Indonesia (Ikopin), di Jatinangor Sumedang
Universitas Sebelas April (Unsap), di Sumedang
Universitas Informatika dan Bisnis Indonesia (UNIBI), di Bandung
Universitas Majalengka (UNMA), di Majalengka
Universitas Kuningan (UNIKU) , di Kuningan
Sekolah Tinggi Kesehatan Kuningan (STIKKU) , di Kuningan
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI Al-IHYA) , di Kuningan
Universitas Bale Bandung (UNIBBA) , di Bandung
Sekolah Tinggi Ekonomi Islam Al-Ishlah (STEI Al-ISHLAH) , di Cirebon
Sekolah Tinggi Teknologi Nusa Putra (STT NUSA PUTRA), di Sukabumi
Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI Al-AMIN) , di Sukabumi
Sekolah Tinggi Manajemen Informatika Komputer Tasikmalaya (STMIK Tasikmalaya) , di Kota Tasikmalaya
Universitas Wiralodra (UNWIR) , di Indramayu
Universitas Subang (UNSUB), di Subang
Universitas Gunadarma (UG), di Depok
Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI), di Sukabumi
Universitas Sukabumi (UNSU), di Sukabumi
Universitas Singaperbangsa (UNSIKA) di Karawang
Purwakarta (UNPUR) di Purwakarta
Universitas Sutan Mahesa (UNSUMA), di Sukabumi Utara
STIE DR.KHEZ Muttaqien (STIE Muttaqien) di Purwakarta
Universitas Islam "45" (UNISMA), di Bekasi
Politeknik Pos Indonesia (POLPOSINDO), di Bandung
Universitas Muhammadiyah Bandung (UNIMBA), di Bandung
Universitas Suryakancana (UNSUR), di Cianjur
Institut Studi Islam Fahmina (ISIF), Cirebon
Universitas Swadaya Gunung Jati (UNSWAGATI), Cirebon
Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) , Cirebon

Pemerintahan

Jawa Barat terdiri atas 17 kabupaten dan 9 kota. Kota-kota hasil pemekaran sejak tahun 1996 adalah:

Kota Bekasi, dimekarkan dari Kabupaten Bekasi pada tahun 1996
Kota Depok, dimekarkan dari Kabupaten Bogor pada tahun 1999
Kota Cimahi, dimekarkan dari Kabupaten Bandung pada tahun 2001
Kota Tasikmalaya, dimekarkan dari Kabupaten Tasikmalaya pada tahun 2001
Kota Banjar, dimekarkan dari Kabupaten Ciamis pada tahun 2002
Kabupaten Bandung Barat, dimekarkan dari Kabupaten Bandung tahun 2007
Kabupaten Pangandaran, dimekarkan dari Kabupaten Ciamis tahun 2012

Kabupaten dan Kota
No..Kabupaten/Kota     Ibu kota
1.Kabupaten Bandung     Soreang
2.Kabupaten Bandung Barat     Ngamprah
3.Kabupaten Bekasi     Cikarang
4.Kabupaten Bogor     Cibinong
5.Kabupaten Ciamis     Ciamis
6.Kabupaten Cianjur     Cianjur
7.Kabupaten Cirebon     Sumber
8.Kabupaten Garut     Tarogong Kidul
9.Kabupaten Indramayu     Indramayu
10.Kabupaten Karawang     Karawang
11.Kabupaten Kuningan     Kuningan
12.Kabupaten Majalengka     Majalengka
13.Kabupaten Pangandaran     Parigi
14.Kabupaten Purwakarta     Purwakarta
15.Kabupaten Subang     Subang
16.Kabupaten Sukabumi     Pelabuhanratu
17.Kabupaten Sumedang     Sumedang
18.Kabupaten Tasikmalaya     Singaparna
19.Kota Bandung     -
20.Kota Banjar     -
21.Kota Bekasi     -
22 .Kota Bogor     -
23.Kota Cimahi     -
24.Kota Cirebon     -
25.Kota Depok     -
26.Kota Sukabumi     -
27.Kota Tasikmalaya     -

Pariwisata, Seni, dan Budaya
Pariwisata

Objek-objek wisata yang menarik dan banyak dikunjungi di daerah Jawa Barat:

  •         Kawah Putih, Ciwidey, Kabupaten Bandung
  •         Situ Patenggang, Rancabali, Kabupaten Bandung
  •         Observatorium Bosscha, Lembang, Kabupaten Bandung Barat
  •         Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, Lembang, Kabupaten Bandung Barat
  •         Kebun Raya Bogor, Kota Bogor
  •         Talaga Warna, Puncak, Kabupaten Bogor
  •         Taman Safari Indonesia,Cisarua,Kabupaten Bogor
  •         Taman Wisata Mekarsari, Kabupaten Bogor
  •         Pantai Pangandaran, Kabupaten Pangandaran
  •         Curug Cibeureum, Cipanas, Kabupaten Cianjur
  •         Puncak, Kabupaten Bogor - Kabupaten Cianjur
  •         Kebun Raya Cibodas, Kabupaten Cianjur
  •         Taman Bunga Nusantara, Kabupaten Cianjur
  •         Taman Wisata Gunung Gede Pangrango, Cipanas, Cianjur, Kabupaten Cianjur
  •         Waduk Cirata, Kabupaten Cianjur
  •         Keraton Kasepuhan, Kota Cirebon
  •         Keraton Kanoman, Kota Cirebon
  •         Keraton Kacirebonan,Kota Cirebon
  •         Keraton Kaprabonan, Kota Cirebon
  •         Taman Air Sunyaragi, Kota Cirebon
  •         Plangon, Kabupaten Cirebon
  •         Belawa, Kabupaten Cirebon
  •         Trusmi, Kabupaten Cirebon
  •         Wanawisata Ciwaringin, Kabupaten Cirebon
  •         Cikalahang, Kabupaten Cirebon
  •         Cipanas, Kabupaten Garut
  •         Bendungan Walahar, Klari, Kabupaten Karawang
  •         Curug Bandung, Tegal Waru, Kabupaten Karawang
  •         Curug Cigeuntis, Tegal Waru, Kabupaten Karawang
  •         Curug Cipanundaan, Tegal Waru, Kabupaten Karawang
  •         Pantai Muara Baru, Cilamaya Wetan, Kabupaten Karawang
  •         Pantai Pakis Jaya, Pakis Jaya, Kabupaten Karawang
  •         Pantai Samudera Baru, Pedes, Kabupaten Karawang
  •         Pantai Tanjung Baru, Tempuran, Kabupaten Karawang
  •         Pantai Tirtamaya, Juntinyuat, Kabupaten Indramayu
  •         Linggarjati, Kabupaten Kuningan
  •         Candi Jiwa, di Percandian Batujaya, Karawang
  •         Candi Blandongan di Percandian Batujaya, Karawang
  •         Waduk Darma, Kabupaten Kuningan
  •         Curug Putri, Kabupaten Kuningan
  •         Lembah Cilengkrang, Kabupaten Kuningan
  •         Liang Panas, Kabupaten Kuningan
  •         Sidomba, Kabupaten Kuningan
  •         Curug Landung, Kabupaten Kuningan
  •         Situ Cicerem, Kabupaten Kuningan
  •         Paseban, Kabupaten Kuningan
  •         Cigugur, Kabupaten Kuningan
  •         Hutan Kota, Kabupaten Kuningan
  •         Kebun Raya Kuningan, Kabupaten Kuningan
  •         Paniis, Kabupaten Kuningan
  •         Palutungan, Kabupaten Kuningan
  •         Curug Muara Jaya, Kabupaten Majalengka
  •         Situ Sangiang, Kabupaten Majalengka
  •         Taman Buana Marga, Kabupaten Majalengka
  •         Tirta Indah, Kabupaten Majalengka
  •         Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta
  •         Ciater, Kabupaten Subang
  •         Gunung Tangkuban Perahu, Kabupaten Subang
  •         Pantai Blanakan, Blanakan, Kabupaten Subang
  •         Pantai Pondok Bali, Legon Kulon, Kabupaten Subang
  •         Penangkaran Buaya, Blanakan, Kabupaten Subang
  •         Pantai Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi
  •         Pantai Ujung Genteng, Ciracap, Kabupaten Sukabumi
  •         Kampung Toga, Kabupaten Sumedang
  •         Museum Prabu Geusan Ulun, Kabupaten Sumedang
  •         Situ Gede, Kota Tasikmalaya
  •         Gunung Galunggung, Kabupaten Tasikmalaya
  •         Kampung Naga, Kabupaten Tasikmalaya
  •         Situ Bagendit, Kabupaten Garut
  •         Pantai Santolo, Kabupaten Garut
  •         Pantai Rancabuaya, Kabupaten Garut
  •         Curug Cimahi, Kabupaten Bandung Barat
  •         Situ Ciburuy, Kabupaten Bandung Barat
  •         Masjid Dian Al-Mahri, Kota Depok

Kesenian

  •         Pencak silat
  •         Jaipong
  •         Gamelan
  •         Wayang Golek
  •         Kuda Renggong
  •         Sisingaan
  •         Kuda Lumping
  •         Angklung
  •         Tari Topeng
  •         Tarling
  •         Degung
  •         Calung
  •         Tayub
  •         Cianjuran
  •         Kiliningan
  •         Tari Ketuk Tilu
  •         Rampak Kendang
  •         Yanuar Wita
  •         Lagu Manuk Dadali
  •         Lagu Cing Cang Keling

Makanan

  •         Batagor
  •         Cireng
  •         Comro
  •         Misro
  •         Tape singkong (Peuyeum)
  •         Oncom
  •         Ubi Cilembu
  •         Mochi
  •         Dodol Garut
  •         Empal Gentong
  •         Sega Jamblang
  •         Kecap Majalengka
  •         Kalua Jeruk
  •         Opak
  •         Tahu Sumedang
  •         Gula Cakar
  •         Wajit
  •         Rengginang
  •         Combro
  •         Gehu
  •         Cimol
  •         Bala-Bala
  •         Gulali
  •         Sele Pisang
  •         Asinan Bogor
  •         Tutug Oncom atau biasa disingkat T.O.
  •         Manisan Cianjur
  •         Cireng

Negara      Indonesia
Ibu kota     Bandung
Koordinat     8º 0' - 5º 40' LS & 106º 0' - 109º 0' BT
Pemerintahan
 • Gubernur     H. Ahmad Heryawan
 • Wakil Gubernur     H. Deddy Mizwar
Luas
 • Total     35.222.18 km2 (13,599.36 mil²)
Populasi (2010)[1]
 • Total     43.053.732
 • Kepadatan     1,200/km2 (3,200/sq mi)
Demografi
 • Suku bangsa     Sunda (73,73%), Jawa (11,04%), Betawi (5,33%), Cirebon (5%), Batak (0,77%), Minangkabau (0,47%), Tionghoa (0,46%)[2]
 • Agama     Islam (97%), Protestan (1,81%), Katolik (0,58%), Buddha (0,22%), Hindu (0,05%), Kong Hu Cu (0.03%)
 • Bahasa     Bahasa Sunda, Bahasa Cirebonan, Bahasa Cirebon dialek Indramayu, Bahasa Melayu dialek Betawi (Berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Jawa Barat (Perda Prov. Jabar) No. 5 Tahun 2003)
Zona waktu     WIB
Kabupaten : 17
Kota     9
Kecamatan     558
Desa/kelurahan     5.778
Situs web     Jawa barat

Sabtu, 20 Juli 2013

Makalah Perumusan Masalah (IPA)

Pengertian dan Fungsi Perumusan Masalah

Perumusan masalah merupakan salah satu tahap di antara sejumlah tahap penelitian yang memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kegiatan penelitian. Tanpa perumusan masalah, suatu kegiatan penelitian akan menjadi sia-sia dan bahkan tidak akan membuahkan hasil apa-apa.

Perumusan masalah atau research questions atau disebut juga sebagai research problem, diartikan sebagai suatu rumusan yang mempertanyakan suatu fenomena, baik dalam kedudukannya sebagai fenomena mandiri, maupun dalam kedudukannya sebagai fenomena yang saling terkait di antara fenomena yang satu dengan yang lainnya, baik sebagai penyebab maupun sebagai akibat.

Mengingat demikian pentingnya kedudukan perumusan masalah di dalam kegiatan penelitian, sampai-sampai memunculkan suatu anggapan yang menyatakan bahwa kegiatan melakukan perumusan masalah, merupakan kegiatan separuh dari penelitian itu sendiri.

Perumusan masalah penelitian dapat dibedakan dalam dua sifat, meliputi perumusan masalah deskriptif, apabila tidak menghubungkan antar fenomena, dan perumusan masalah eksplanatoris, apabila rumusannya menunjukkan adanya hubungan atau pengaruh antara dua atau lebih fenomena.

Perumusan masalah memiliki fungsi sebagai berikut yaitu Fungsi pertama adalah sebagai pendorong suatu kegiatan penelitian menjadi diadakan atau dengan kata lain berfungsi sebagai penyebab kegiatan penelitian itu menjadi ada dan dapat dilakukan. Fungsi kedua, adalah sebagai pedoman, penentu arah atau fokus dari suatu penelitian. Perumusan masalah ini tidak berharga mati, akan tetapi dapat berkembang dan berubah setelah peneliti sampai di lapangan. Fungsi ketiga dari perumusan masalah, adalah sebagai penentu jenis data macam apa yang perlu dan harus dikumpulkan oleh peneliti, serta jenis data apa yang tidak perlu dan harus disisihkan oleh peneliti. Keputusan memilih data mana yang perlu dan data mana yang tidak perlu dapat dilakukan peneliti, karena melalui perumusan masalah peneliti menjadi tahu mengenai data yang bagaimana yang relevan dan data yang bagaimana yang tidak relevan bagi kegiatan penelitiannya. Sedangkan fungsi keempat dari suatu perumusan masalah adalah dengan adanya perumusan masalah penelitian, maka para peneliti menjadi dapat dipermudah di dalam menentukan siapa yang akan menjadi populasi dan sampel penelitian.

Kriteria-kriteria Perumusan Masalah

Ada setidak-tidaknya tiga kriteria yang diharapkan dapat dipenuhi dalam perumusan masalah penelitian yaitu kriteria pertama dari suatu perumusan masalah adalah berwujud kalimat tanya atau yang bersifat kalimat interogatif, baik pertanyaan yang memerlukan jawaban deskriptif, maupun pertanyaan yang memerlukan jawaban eksplanatoris, yaitu yang menghubungkan dua atau lebih fenomena atau gejala di dalam kehidupan manusaia.

Kriteria Kedua dari suatu masalah penelitian adalah bermanfaat atau berhubungan dengan upaya pembentukan dan perkembangan teori, dalam arti pemecahannya secara jelas, diharapkan akan dapat memberikan sumbangan teoritik yang berarti, baik sebagai pencipta teori-teori baru maupun sebagai pengembangan teori-teori yang sudah ada.

Kriteria ketiga, adalah bahwa suatu perumusan masalah yang baik, juga hendaknya dirumuskan di dalam konteks kebijakan pragmatis yang sedang aktual, sehingga pemecahannya menawarkan implikasi kebijakan yang relevan pula, dan dapat diterapkan secara nyata bagi proses pemecahan masalah bagi kehidupan manusia.

Berkenaan dengan penempatan rumusan masalah penelitian, didapati beberapa variasi, antara lain (1) Ada yang menempatkannya di bagian paling awal dari suatu sistematika peneliti, (2) Ada yang menempatkan setelah latar belakang atau bersama-sama dengan latar belakang penelitian dan (3) Ada pula yang menempatkannya setelah tujuan penelitian.

Di manapun rumusan masalah penelitian ditempatkan, sebenarnya tidak terlalu penting dan tidak akan mengganggu kegiatan penelitian yang bersangkutan, karena yang penting adalah bagaimana kegiatan penelitian itu dilakukan dengan memperhatikan rumusan masalah sebagai pengarah dari kegiatan penelitiannya. Artinya, kegiatan penelitian yang dilakukan oleh siapapun, hendaknya memiliki sifat yang konsisten dengan judul dan perumusan masalah yang ada. Kesimpulan yang didapat dari suatu kegiatan penelitian, hendaknya kembali mengacu pada judul dan permasalahan penelitian yang telah dirumuskan.

Conto Skripsinya :

Pengaruh pembudidayaan

Jeruk secara generatif dan vegetatif

Tugas materi penelitian

 Ipa (Sains)

Di skripsikan Oleh :

Dadan Hamdan

Tekhnik Komputer Jaringan

Smkn 1 Plered

Kata pengantar

Assalamualaikum wr.wb

untuk puji syukur ke hadirat ALLAh SWT atas segala rahmat dan karunianya sehingga penulisan skripsi dengan judul “ Pengaruh pembudidayaan jeruk secara generatif dan vegetatif” Dapat terselesaikan.

Skripsi ini merupakan sebuah tugas yang di berikan untuk memenuhi nilai harian B.Study Ipa (Sains).

Saya menyadari bahwa sepenuhnya tugas skripsi/Analisis data ini masih banyak kekurangan masih jauh dari kesempurnaan.

Wassalamualaikum wr.wb

Daftar isi

Kata Pengantar..........................................   ii

Daftar isi....................................................  ii

Bab I Pendahuluan....................................    iv

        1.1.Latar belakang.............................     v

        1.2.Rumusan masalah.......................     iv

        1.3.Hipotesis......................................    iiv

Bab II Kerangka teori................................     iiiv

Bab III Bahan dan metode kerja...............      ix

Bab IV hasil analisa data.........................       ..      x

Bab V Kesimpulan dan saran..................        ..   
   
Bab 1
1.Pendahuluan
          Deskripsi ini Berisi materi pembelajaran IPA (Sains).materi yang di bahas adalah “Pengaruh pembudidayaan jeruk secara generatif dan vegetatif”yang di berikan guru b.study saya sebagai tugas untuk memenuhi nilai harian  dan pemebelajaran yang berbentuk Analisis data yang mencakup materi dalam pembelajaran Ipa (Sains).

1.1.Latar belakang
          Sebelum di temukan cara pembudidayaan pohon/tanaman jeruk secara vegetatif kebutuhan pasar terhadap buah ini begitu banyak sehingga petanipun tidak mampu memenuhi permintaan pasar akan buah jerk yang kaya vitamin C.
          Setelah di temukannya cara pembudidayaan jeruk secara vegetatif hasil panenpun meningkat duakali lipat yang awalnya petani sekali panen menghasilkan hany 60 KG buah jeruk dengan cara generatif dan dengan cara vegetatif hasil panen petani meningkat menjadi 120 KG dalam sekali panen.
1.2.Rumusan Masalah

Setelah melihat latar belakang di atas,rumusan masalah yang di kemukakan yaitu :

1.Apakah terdapat pengaruh pembudidayaan jeruk secara vegetatif  ?
2.Apakah terdapat perbedaan hasil pembudidayaan jeruk secara generatif dan vegetatif ?
1.3.Hipotesis
       Terdapat pengaruh pembudidayaan jeruk secara vegetatif .dan hasil yang di dapatkan meningkat.

Bab II

1.1.Kerangka teori

I.)A.Monosodium glutamat (MSG)
Monosodium glutamat atau yang lebih kita kenal dengan garam yodium merupakan suatu asam amino yang menyusun komponen pada tubuh manusia.MSG tersusun dari 78% glutamat,12%natrium dan 10% air.Glutamat merupakan salah satu asam amino dari 20 asam amino yang membentuk protein yang terdapat pada makan dan tubuh manusia.

B.Keunggulan MSG
Berfungsi sebagai bahan pengatur keasaman tanah/pengkondisian tanah untuk meningkatkan bahan organik yang terkandung di dalam tanah untuk mensuburkan dan mempertahankan keseburan tanah.dengan kesuburan tanah,fisik,kimia dan unsur hara tanah,dan mikroba yang terkandung dalam tanah sangat menguntungkan yaitu mikroba azosprillium,yang berfungsi menambah Nitrogen yang dapat memberikan unsur hara untuk kebutuhan tanaman sehingga menyuburkan tanaman,

II.)B.Pupuk urea
          Pupuk ini merupakan pupuk kimia yang memiliki Nitrogen berkadar tinggi,Zat ini di butuhkan untuk memenuhi unsur hara yang di butuhkan tanaman.bentuk dari Pupuk urea ini seperti butiran kristal kecil yang berwarna putih(NH2CONH2).kandungan Nitrogen dalam pupuk ini sebesar 42% dengan kadar 100Kg Pupuk urea menghasilkan sekitar 46Kg Nitrogen.
B.Kegunaan Pupuk urea

I.)Membuat daun tanaman lebih hijau dan berdaun lebat yang mengandung banyak Klorofil yang berperan penting bagi proses fotosintesis tumbuhan.
II.)Mempercepat pertumbuhan tanaman mulai dari akar,dahan,daun dll.)
III.)Menambah kandungan protein yang di butuhkan tanaman.

C.Pengaruh Pupuk terhadap pertumbuhan jeruk secara vegetatif/Generatif

I.)Memberikan unsur zat/protein untuk pekembangan dalam pemberian pupuk dengan jumlah tertentu  yang di berikan.
II.)Kualitas pohon dan buah yang di hasilkan bagus dan nilai penjualan buah jeruk naik dengan kualitas yang bagus.
III.)Buah jeruk yang di pupuk bentuk ,rasa,warna,ukuran dan kualitasnya lebih menarik di bandingkan dengan jeruk tanpa pemupukan.

Bab III

1.1.Bahan dan Metode kerja

1.Pot ukuran 20x20 cm (4 buah)

2.Bibit jeruk Generatif (2) dan vegetatif (2)

(Bibit cangk ok dan bibit Biji umur 4 minggu)

3.MSg dan Pupuk urea

4.Tanah sebagai media (Scukupnya)

5.Mistar  (Penggaris)

6.Air

1.2.Langkah kerja

       1.Menyiapkan alat dan bahan

2.Menanam bibit jeruk ke dalam POT yang berbeda

3.Merawat dan menyiramnya

4.Tunggu bibit tumbuh

5.Setelah bibit tumbuh dan berkembang perhatikan pertumbuhannya dan catat perkembangannya mulai dari banyak daun,ukuran pohon,dan banyak batang

6.Setelah tumbuh berikan Pupuk Urea pada pot no 1 dan 2 dan Pupuk Msg Pada pot 3 dan 4  tunggu pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya

7.setelah tanaman berkembang ukur kembali perkembangan setelah di berikan pupuk dan apa saja yang terjadi apakah terjadi perbedaan antara Pohon jeruk generatis dan vegetatif.

Bab IV

1.1.)Hasil= analisis Data (Tabel)

Jadwal pelaksanaan

No.Tanggal pelaksanaan  Urutan pelaksanaan

1.28 agustus 2012 Rancangan

2. 29 agustus 2012 Menyiapkan alat dan bahan

3.30 agustus 2012 Melakukan percobaan

4.9 september 2012 Pertumbuhan jeruk

5.23 september 2012  Mengukur pertumbuhah

6.25 september 2012 Hasil laporan Data dan perkembangan

No.Lama waktu percobaan   Pupuk Msg         Pupuk urea

1.Minggu pertama

Awal=15 cm      Belum .......
Awal = 15 cm    Belum......

2.Minggu ke dua

Awal = 15 cm        akhir = 17cm
Awal=15 cm           Akhir=19 cm

3.Minggu ke tiga
 Awal=17cm     Akhir=20cm
  Awal=19cm    Akhir=24cm
4.Minggu ke empat

Awal=20cm     Akhir=24cm
Awal=24cm      Akhir=28cm


5.Minggu ke lima

Awal=24cm   Akhir=27cm
Awal=28cm   Akhir=32cm

6.Minggu ke enam

Awal=27cm     Akhir=30cm
Awal=32cm     Akhir=35cm

I.)Hasil analisis data
Jadi dengan melihat dan mengetahui tabel diatas kita dapat menegetahui pertumbuhan dan keunggulan dari cara pembudidayaan jeruk secara generatif dan vegetatif dengan mengetahui perkembangan dan pertumbuhan setiap minggunya dengan di tambahkan pupuk urea setiap minggu  dan pupuk MSG kita dapat mengetahui keunggulan masing masing pupuk dengan perkembangan pohon jeruk.
Setelah kita menlakukan percobaan kita dapat mengetahi pertumbuhan jeruk secara generatif dan vegetatif dengan pupuk yang berbeda.

A.Pupuk Urea
Dengan Pupuk urea pohon terlihat lebih gemuk,daun yang lebat dan batang yang rindang.

B.Pupuk Msg
Pertumbuhan Pohon dengan pupuk Msg agak terlambat dan hasil pupuk ini pada pohon agak kurang berdampak malah pohon agak terlihat kurang nutrisi,warna daun agak kuning dan pohon agak kurus karna MSg mengandung sodium (Monododium glutamat) karna dia berfungsi ebagai penguat rasa dan tidak berpengaruh bagi pertumbuhan jeruk dan hasil analisa.

Bab V

1.1.Kesimpulan dan saran
Kesimpulannya bahwa pupuk urea lebih berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman di banding dengan pupuk MSG dgn pupuk urea pertumbuha cepat dan pohon terlihat lebih subur dengan nutrisi yang tekandung dalam Pupuk urea.

1.2.Saran
Untuk menyuburkan tanah dan ingin membuat tanaman lebih baik kita menggunakan pupuk urea atau pupuk organik karna lebih berpengaruh terhadap hasil pertumbuhan tanaman yang kita inginkan di bandingkan dengan menggunakan MSg.

Itulah Conto Skripsi yang saya susun walau terlihat kurang menarik ya hehe..................

Senin, 06 Mei 2013

Pengertian sirkum pasifik dan sirkum mediterania

Pegunungan
Daerah pegunungan merupakan daerah yang terdiri atas bukit-bukit dan gunung-gunung sehingga tampak membentuk suatu rangkaian. Ada dua system pegunungan lipatan muda di permukaan bumi, yaitu Sirkum Mediterania dan Sirkum Pasifik.

yaitu sirkum mediterania dan sirkum pasifik

a. Sirkum Mediterania
Sirkum Mediterania berawal dari Pegunungan Alpen di Eropa kemudian menyambung ke Pegunungan Himalaya di Asia dan masuk ke wilayah Indonesia melalui Pulau Sumatra. Pegunungan Sirkum Mediterania ini terbagi menjadu dua jalur utama, yakni sebagai berikut :
1. Busur dalam
Busur dalam dari rangkaian Sirkum Mediterania bersifat vulkanis.
2. Busur luar
Busur luar dari rangkaian Sirkum Mediterania, tidak bersiat vulkanis.]

b. Sirkum Pasifik
Sirkum Pasifik dari Pegunungan Andes di Amerika Selatan, kemudian bersambung ke Pegunungan Rocky di Amerika Utara. 


a. Sirkum Mediterania
Sirkum Mediterania berawal dari Pegunungan Alpen di Eropa kemudian menyambung ke Pegunungan Himalaya di Asia dan masuk ke wilayah Indonesia melalui Pulau Sumatra. Pegunungan Sirkum Mediterania ini terbagi menjadu dua jalur utama, yakni sebagai berikut :
1. Busur dalam
Busur dalam dari rangkaian Sirkum Mediterania bersifat vulkanis.
2. Busur luar
Busur luar dari rangkaian Sirkum Mediterania, tidak bersiat vulkanis.]

b. Sirkum Pasifik
Sirkum Pasifik dari Pegunungan Andes di Amerika Selatan, kemudian bersambung ke Pegunungan Rocky di Amerika Utara.  

 
jalur gempa di dunia
Terdapat tiga jalur utama gempa yang merupakan batas pertemuan dari beberapa lempeng tektonik aktif.
a. Jalur sirkum pasifik (circum pasicik belt),jalur ini dari Cordileras de Los andes ( Cile,Equador,Karibia) Amerika Tengah,Meksiko,Jepang,Taiwan,Filipina,Sulawesi,Irian dan berakhir di New Zeeland.
b. jalur trans asiatik (trans asiatic belt),jalur ini dimulai dari medeteran (Maroko,Portugal,Italia,Balkan,Rumania),Turki,Irak,Iran,Himalaya,Indonesia (Sumatra,Jawa,Nusa Tenggara,dan Laut Banda) dan akhirnya bertemu dengan jalur sirkum pasifik di daerah Maluku.
c. Jalur Mid-Atlantic,jalur ini mengikuti Mid-Atlantic Ridge,yaitu Seitsbergen,Iceland,dan Atlantik Selatan.
    Sebanyak 80% dari gempa di dunia, terjadi di sirkum pasifik yang juga merupakan jalur vulkanik,15% gempa terjadi di jalur mediteran dan sisanya 5% tersebar di Mid-Atlantic dan tempat-tempat lainnya.
    Indonesia juga termasuk bagian dari lintasan The Pasific Ring of Fire (cincin api pasifik).Yaitu suatu lintasan di mana terdapat deretan gunung api.Sehingga di negara yang dilewati cincin api ini sering terjadi gempa tektonik maupun vulkanik.  

Istilah-Istilah Dalam Gempa Bumi

 

A. GEMPA BUMI

adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi yang biasa disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng bumi). Kata gempa bumi juga digunakan untuk menunjukkan daerah asal terjadinya kejadian gempa bumi tersebut. Meskipun bumi padat, tetapi selalu bergerak dan gempa bumi terjadi apabila tekanan yang terjadi karena pergerakan itu sudah terlalu besar untuk dapat ditahan. Kalau digambarkan seperti layaknya gelang karet ditarik dan dilepaskan dengan tiba-tiba.

a. Berdasarkan penyebabnya

1. gempa tektonik, yaitu gempa yang disebabkan pergeseran lapisan batuan (dislokasi) berupa patahan/retakan.

2. gempa vulkanik, yaitu gempa yang disebabkan adanya letusan gunung api

3. gempa runtuhan, yaitu gempa yang disebabkan runtuhnya atap gua yan terdapat di dalam lithosfer. Contoh; runtuhnya terowongan tambang dan gua kapur.

b. Berdasarkan bentuk episentrumnya

1. gempa linier yaitu gempa yang episentrumnya berbentuk garis (linier). Pada umumnya gempa tektonik merupakan jenis gempa linier.

2. gempa sentral yaitu episentrum gempanya berupa titik. Gempa vulkanik dan gempa runtuhan termasuk episentrum titik.

c. Berdasarkan letak hiposentrumnya

1. gempa dalam, jika letak hiposentrumnya antara 300 - 700 km

2. gempa intermidier, jika letak hiposentrumnya 100 - 300 km

3. gempa dangkal, jika letak hiposentrumnya kurang dari 100 km



B. ISTILAH ISTILAH DALAM GEMPA BUMI :

1. Seismologi : ilmu yang mempelajari gempa bumi

2. Seismograf : alat pencatat gempa

3. Seismogram : hasil gambaran seimograf yang berupa garis-garis patah

4. Hiposentrum : pusat gempa di dalam bumi

5. Episentrum : tempat di permukaan bumi/permukaan laut yang tepat di atas hiposentrum. Pusat gempa di permukaan bumi.

6. Homoseista : garis khayal pada permukaan bumi yang mencatat gelombang gempa primer pada waktu yang sama

7. Pleistoseista : garis khayal yang membatasi sekitar episentrum yang mengalami kerusakan terhebat akibat gempa

8. Isoseista : garis pada peta yang menghubungkan tempat-tempat yang mempunyai kerusakan fisik yang sama

9. Mikroseista : gempa yang terjadi sangat halus/lemah dan dapat diketahui hanya dengan menggunakan alat gempa

10. Makroseista : gempa yang terjadi sangat besar kekuatannya, sehingga tanpa menggunakan alat mengetahui jika terjadi gempa.



C. SKALA RICHTER

Kekuatan Gempa di ukur dengan Skala Richter atau SR, yang didefinisikan sebagai logaritma (basis 10) dari amplitudo maksimum, yang diukur dalam satuan mikrometer, dari rekaman gempa oleh instrumen pengukur gempa (seismometer) Wood-Anderson, pada jarak 100 km dari pusat gempanya. Sebagai contoh, misalnya kita mempunyai rekaman gempa bumi (seismogram) dari seismometer yang terpasang sejauh 100 km dari pusat gempanya, amplitudo maksimumnya sebesar 1 mm, maka kekuatan gempa tersebut adalah log (10 pangkat 3 mikrometer) sama dengan 3,0 skala Richter. Skala ini diusulkan oleh fisikawan Charles Richter.



Untuk memudahkan orang dalam menentukan skala Richter, tanpa melakukan perhitungan matematis yang rumit, dibuatlah tabel sederhana seperti berikut ini :

a. < 2.0 SR : Gempa kecil , tidak terasa

b. 2.0 - 2.9 SR : Tidak terasa, namun terekam oleh alat

c. 3.0 - 3.9 SR : Seringkali terasa, namun jarang menimbulkan kerusakan

d. 4.0 - 4.9 SR : Dapat diketahui dari bergetarnya perabot dalam ruangan, suara gaduh bergetar. Kerusakan tidak terlalu signifikan.

e. 5.0 - 5.9 SR : Dapat menyebabkan kerusakan besar pada bangunan pada area yang kecil. Umumya kerusakan kecil pada bangunan yang didesain dengan baik

f. 6.0 - 6.9 SR : Dapat merusak area hingga jarak sekitar 160 km

g. 7.0 - 7.9 SR : Dapat menyebabkan kerusakan serius dalam area lebih luas

h. 8.0 - 8.9 SR : Dapat menyebabkan kerusakan serius hingga dalam area ratusan mil

i. 9.0 - 9.9 SR : Menghancurkan area ribuan mil

j. > 10.0 SR : Belum pernah terekam



Perlu diingat bahwa perhitungan magnitudo gempa tidak hanya memakai teknik Richter seperti ini. Kadang-kadang terjadi kesalahpahaman dalam pemberitaan di media tentang magnitudo gempa ini karena metode yang dipakai kadang tidak disebutkan dalam pemberitaan di media, sehingga bisa jadi antara instansi yang satu dengan instansi yang lainnya mengeluarkan besar magnitudo yang tidak sama.



D. SIAPA YANG BERTANGGUNGJAWAB MENANGANI BENCANA..??

Melalui Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2005 dibentuklah BADAN KOORDINASI NASIONAL PENANGANAN BENCANA (Bakornas PB). Untuk melaksanakan penanganan bencana dan kedaruratan di daerah dapat dibentuk Satuan Koordinasi Pelaksana Penanganan Bencana yang selanjutnya disebut dengan SATKORLAK PB di tingkat Propinsi yang diketuai oleh Gubernur, sedangkan Satuan Pelaksana Penanganan Bencana yang selanjutnya disebut dengan SATLAK PB untuk tingkat Kabupaten/Kota yang diketuai oleh Bupati/Walikota. Namun seluruh masyarakat Indonesia, (terutama yang telah cukup umur dan akan lebih baik apabila memiliki dasar pendidikan rescue), bisa bergabung untuk menjadi relawan.

Tindakan-tindakan yang dilakukan :

a. Mitigasi  : adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana.

b. Rehabilitasi : adalah perbaikan dan pemulihan semua aspek pelayanan publik atau masyarakat sampai tingkat yang memadai pada wilayah pascabencana dengan sasaran utama untuk normalisasi atau berjalannya secara wajar semua aspek pemerintahan dan kehidupan masyarakat pada wilayah pascabencana.

c. Rekonstruksi : adalah pembangunan kembali semua prasarana dan sarana, kelembagaan pada wilayah pascabencana, baik pada tingkat pemerintahan maupun masyarakat dengan sasaran utama tumbuh dan berkembangnya kegiatan perekonomian, sosial dan budaya, tegaknya hukum dan ketertiban, dan bangkitnya peran serta masyarakat dalam segala aspek kehidupan bermasyarakat pada wilayah pascabencana.

d. Tanggap darurat bencana : adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan dengan segera pada saat kejadian bencana untuk menangani dampak buruk yang ditimbulkan, yang meliputi kegiatan penyelamatan dan evakuasi korban, harta benda, pemenuhan kebutuhan dasar, perlindungan, pengurusan pengungsi, penyelamatan, serta pemulihan prasarana dan sarana.



E. SEKILAS TENTANG BMKG & GFZ POSTDAM :

1. BADAN METEROROLOGI KLIMATOLOGI & GEOFISIKA INDONESIA (BMKG)

BMKG mempunyai status sebuah Lembaga Pemerintah Non Departemen (LPND), dipimpin oleh seorang Kepala Badan. BMKG mempunyai tugas : melaksanakan tugas pemerintahan di bidang Meteorologi, Klimatologi, Kualitas Udara dan Geofisika sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

Dengan Tujuan :

a. Mengamati dan memahami fenomena Meteorologi, Klimatologi, Kualitas udara dan Geofisika.

b. Menyediakan data dan informasi Meteorologi, Klimatologi, Kualitas udara dan Geofisika yang handal dan terpercaya

c. Melaksanakan dan mematuhi kewajiban internasional dalam bidang Meteorologi, Klimatologi, Kualitas udara dan Geofisika.

d. Mengkoordinasikan dan memfasilitasi kegiatan di bidang Meteorologi, Klimatologi, Kualitas udara dan Geofisika.


2. GFZ POSTDAM (German Research Centre for Geosciences)

(Helmholtz Potsdam GFZ, Pusat Penelitian Geolfisika Jerman)

GFZ Postdam adalah pusat penelitian nasional untuk Ilmu Bumi yang terdapat di kota Postdam Jerman. GFZ Postdam menyelidiki "Sistem Bumi" di lokasi yang terdapat di seluruh dunia dengan semua keadaan geologi, fisik, kimia dan proses biologis yang terjadi pada permukaannya dan di bagian dalamnya. Lembaga ini tidak hanya menyelidiki proses dalam planet itu sendiri, tetapi juga mempelajari banyak interaksi antara zat padat bumi, atmosfer, hidrosfer dan penghuni dunia. Sekaligus pula menganalisis bagaimana manusia, yang hidup di permukaan bumi, mempengaruhi planet gejala alam. Singkatnya, penelitian GFZ berhubungan dengan seluruh "Sistem Bumi" termasuk pengaruh umat manusianya.



Sabtu, 27 April 2013

Sejarah Situ Buled Purwakarta

http://2.bp.blogspot.com/-EvXIHhNFAyM/TwgLGPiYafI/AAAAAAAAAH0/Y3FHvMSunIg/s400/sitbul.jpg
Badak Sebagai ICOn purwakarta
Tidak banyak warga Purwakarta dan sekitarnya yang mengetahui Sejarah Situ Buleud Purwakarta. Dimana setu yang hampir menyerupai sebuah lingkaran ini ternyata memiliki sejarah yang harus dilestarikan. Inilah Sejarah Situ Buleud Purwakarta salah satu History munculnya simbol Badak di bagian pintu barat Taman Kabupaten Purwakarta ini.

Pada tahun 1830 R.A Suriawinata yaitu Pendiri Purwakarta mulai merintis Situ Buleud. Setelah Belanda melepaskan diri dari Inggris yang ditandai dengan dikembalikannya wewenang dari para Bupati kepada Jendral Van Der Capellen sang Gubernur sekitar Tahun 1819-1826. Sekitar tahun 1820 Kabupaten Karawang kembali dihidupkan yang wilayahnya meliputi Sebelah timur Cibebet/Citarum dan sebelah Barat Kali Cipunagara. Kecuali Kecamatan Plered yang dulu bernama Distrik Gandasoli yang saat itu masih masuk ke wilayah Kabupaten Bandung

Dibawah pemerintahan Dalem Sholawat sebutan untuk Bupati R.A Suriawinata, Ibukota Kabupaten dipindahkan dari Wanayasa ke Sindangkasih. Dimana saat itu pula nama Purwakarta dilahirkan, Purwakarta sendiri terdiri dari kata Purwa yang berarti Permulaan dan Karta yang berarti Ramai/Hidup. Berdasarkan besluit (surat keputusan) dari pemerintah kolonial tanggal 20 Juli 1831 Nomor 2 ini, nama Purwakarta dengan sah diresmikan.

Pengurugan Rawa-rawa adalah langkah awal pembuatan Situ Buleud, Pembangunan Keresidenan, Pendopo, Masjid Agung, Tangsi Tentara di Ceplak, termasuk pembuatan Sawah Lega, Solokan Gede, dan Situ Kamojing. Hingga diteruskan oleh bupati-bupati berikutnya.

Pembangunan Situ Buleud mulai dirintis pada 1830 oleh pendiri Purwakarta, yaitu R.A. Suriawinata. Antara tahun 1819-1826, pemerintahan Belanda melepaskan diri dari pemerintahan Inggris yang ditandai dengan upaya pengembalian kewenangan dari para bupati kepada Gubernur Jendral Van der Capellen. Dengan demikian, Kabupaten Karawang dihidupkan kembali sekitar tahun 1820, meliputi wilayah yang terletak di sebelah timur Kali Citarum/ Cibeet dan sebelah barat Kali Cipunagara. Dalam hal ini, kecuali Onder Distrik Gandasoli, sekarang Kecamatan Plered, pada waktu itu termasuk Kabupaten Bandung

Pada masa pemerintahan Bupati R.A. Suriawinata atau Dalem Sholawat, pada 1830 ibu kota dipindahkan dari Wanayasa ke Sindangkasih, yang kemudian diberi nama Purwakarta, purwa berarti permulaan dan karta berarti ramai/hidup. Diresmikan berdasarkan besluit (surat keputusan) pemerintah kolonial tanggal 20 Juli 1831 nomor 2.

Pembangunan dimulai antara lain dengan pengurugan rawa-rawa untuk pembuatan Situ Buleud, pembangunan Gedung Karesidenan, Pendopo, Masjid Agung, Tangsi Tentara di Ceplak, termasuk membuat Solokan Gede, Sawah Lega, dan Situ Kamojing. Pembangunan terus berlanjut sampai pemerintahan bupati berikutnya.

# CERITA MISTIK SITU BULEUD
Seorang sesepuh Purwakarta yang juga Sekretaris Musyawarah Bersama Masyarakat Purwakarta dan anggota panitia penelusuran sejarah Purwakarta, R.H. Garsoebagdja Bratadidjaja, menjelaskan, pada zaman dahulu Situ Buleud merupakan tempat "pangguyangan" (berkubang) badak yang datang dari daerah Simpeureun dan Cikumpay serta dijadikan pula tempat minum bagi binatang lainnya. Situ Buleud terbentuk karena ada mata air ditambah air hujan. Kemudian, pada zaman Belanda diperbesar. Karena dikhawatirkan airnya terus surut, dibuatlah saluran irigasi dari daerah Pasawahan. Selanjutnya, Gar menceritakan sebenarnya Situ Buleud sering dipergunakan untuk acara-acara keramaian besar, seperti memperingati hari ulang tahun Raja Belanda ataupun keramaian lain. Kemudian dibuat panggung besar di tengah-tengah danaunya dan diadakanlah pesta besar sehingga rerumputan yang ada di sekelilingnya juga terus dipelihara. "Ini terjadi sebelum Perang Dunia II, sedangkan sekarang tidak ada lagi acara tersebut yang biasanya diramaikan dengan acara wayang golek ataupun calung," ujarnya.
Pada zaman Belanda itulah, rakyat jelata tidak boleh menginjak rumput yang ada di sekeliling Situ Buleud karena merupakan tempat atau arena bermain para gegeden Belanda. Untuk menjaganya, dipercayakan kepada seorang upas bernama Sahro lengkap dengan pentungan karetnya. Ia seringkali berteriak-teriak untuk menakut-nakuti anak-anak yang bermain ke wilayah sekitar danau itu. Karena merasa takut dipentungi, anak-anak biasanya terus berlarian. Lebih dari itu, Situ Buleud dulu juga sering dijadikan tempat berenang. "Namun, sekarang tidak lagi bahkan sekarang suka ada jatuh korban anak-anak yang tenggelam, sedangkan dulu tidak pernah," ungkap Gar.

Sementara itu, menyangkut cerita berbau mistik, menurut Gar, berdasarkan penuturan orang-orang tua dulu pada setiap subuh anak-anak seringkali bermain di sekitar Situ Buleud. Namun, mereka biasanya langsung berlarian manakala terdengar teriakan bahwa di tengah-tengah Situ Buleud muncul secara tiba-tiba bayang-bayang hitam besar. "Awas! Aya anunya [****]Bima. Aya [****] Bima!"
Bahkan, yang lebih seram lagi sempat pula ada cerita orang tua dulu bahwa di Situ Buleud itu ada "penunggu"-nya yang biasa disebut si Barong, yakni sesosok mahluk menyerupai bentuk kepala singa. Makhluk itu konon suka muncul secara tiba-tiba di tengah Situ Buleud. "Bila ada orang yang kawenehan (kebetulan melihat-red.), akan terlihat sosok kepala singa besar," ungkap Garsubagdja.

Istana megah

Sementara itu, seorang warga sekitar Situ Buleud bernama Andang (27), yang merupakan warga asli di sekitar danau tersebut, menceritakan, dulu sebagaimana diceritakan orang tuanya Situ Buleud memang merupakan tempat berkubang badak. Pada zaman Belanda diperbaiki dan dijadikan arena kegiatan hiburan. Ia juga mengetahui banyak cerita mistik di Situ Buleud. Menurutnya, bila kita punya "ilmu", ketika masuk dari pintu gerbang utama langsung terlihat berdirinya sebuah istana megah.

Pernah juga ada cerita bahwa suatu saat danau itu akan dikeringkan untuk diambil ikannya (bahasa Sunda = dibedahkeun-red.). Pada malam hari sebelum danau itu dikeringkan, secara kebetulan jatuh pada malam Jumat, menurut cerita banyak ikan besarnya yang berjalan menuju sungai di sekitarnya. "Katanya, ikan itu merupakan ikan kajajaden atau bukan sembarang ikan," ungkapnya.

Ada pula cerita, hampir setiap tahun selalu saja ada korban manusia yang menjadi wadal (tumbal-red.) karena ada cerita bahwa danau itu ditunggui oleh Mbah Jambrong. Pada beberapa bulan lalu sempat pula ada seseorang yang menangkap ikan menggunakan jala, lalu tersangkut dan tercebur ke dalam danau hingga meninggal. Bahkan sebelumnya, banyak cerita yang dihubung-hubungkan dengan mistik seperti meninggalnya seorang pengusaha yang menyewa danau itu untuk dijadikan tempat rekreasi. "Selain itu, ada juga cerita tentang rumah peninggalan Belanda di sekitar danau yang sempat disewa oleh produser film 'Rojali dan Juleha' selama dua bulan, namun baru sebulan langsung hengkang. Pasalnya, banyak artisnya yang tidak tahan banyak yang pingsan dan kerasukan," ujarnya.

Minggu, 31 Maret 2013

Biografi Pahlawan (Tuanku Imam Bonjol)



Tuanku Imam Bonjol (lahir di Bonjol, Pasaman, Sumatra Barat 1772 - wafat dalam pengasingan dan dimakamkan di Lotak, Pineleng, Minahasa, 6 November 1864), bernama asli Muhammad Shahab atau Petto Syarif, adalah salah seorang ulama, pemimpin dan pejuang yang berperang melawan Belanda, peperangan itu dikenal dengan nama Perang Padri di tahun 1803-1837. Tuanku Imam Bonjol diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973 .

Tuanku Imam Bonjol dilahirkan di Bonjol, Pasaman, Indonesia pada tahun 1772.Beliau kemudiannya meninggal dunia di Manado, Sulawesi pada 6 November 1864 dalam usia 92 tahun dan dimakamkan di Khusus Lotak, Minahasa.
Nama dan gelar
Nama asli dari Tuanku Imam Bonjol adalah Muhammad Shahab, yang lahir di Bonjol pada tahun 1772. Dia merupakan putra dari pasangan Bayanuddin (ayah) dan Hamatun (ibu). Ayahnya, Khatib Bayanuddin, merupakan seorang alim ulama yang berasal dari Sungai Rimbang, Suliki, Lima Puluh KotaSebagai ulama dan pemimpin masyarakat setempat, Muhammad Shahab memperoleh beberapa gelar, yaitu Peto Syarif, Malin Basa, dan Tuanku Imam. Tuanku nan Renceh dari Kamang, Agam sebagai salah seorang pemimpin dari Harimau nan Salapan adalah yang menunjuknya sebagai Imam (pemimpin) bagi kaum Padri di Bonjol. Ia akhirnya lebih dikenal dengan sebutan Tuanku Imam Bonjol.
Tuanku Imam Bonjol bukanlah seorang Minahasa. Dia berasal dari Sumatera Barat. "Tuanku Imam Bonjol" adalah sebuah gelaran yang diberikan kepada guru-guru agama di Sumatra. Nama asli Imam Bonjol adalah Peto Syarif Ibnu Pandito Bayanuddin.

Dia adalah pemimpin yang paling terkenal dalam gerakan dakwah di Sumatera, yang pada mulanya menentang perjudian, laga ayam, penyalahggunaan dadah, minuman keras, dan tembakau, tetapi kemudian mengadakan penentangan terhadap penjajahan Belandayang memiliki semboyan Gold, Glory, Gospel sehingga mengakibatkan perang Padri (1821-1837).

Mula-mula ia belajar agama dari ayahnya, Buya Nudin. Kemudian dari beberapa orang ulama lainya, seperti Tuanku Nan Renceh. Imam Bonjol adalah pengasas negeri Bonjol.

Pertentangan kaum Adat dengan kaum Paderi atau kaum agama turut melibatkan Tuanku Imam Bonjol. Kaum paderi berusaha membersihkan ajaran agama islam yang telah banyak diselewengkan agar dikembalikan kepada ajaran agama islam yang murni.

Golongan adat yang merasa terancam kedudukanya, mendapat bantuan dari Belanda. Namun gerakan pasukan Imam Bonjol yang cukup tangguh sangat membahayakan kedudukan Belanda. Oleh sebab itu Belanda terpaksa mengadakan perjanjian damai dengan Tuanku Imam Bonjol pada tahun 1824. Perjanjian itu disebut "Perjanjian Masang". Tetapi perjanjian itu dilanggar sendiri oleh Belanda dengan menyerang Negeri Pandai Sikat.

Pertempuran-pertempuran berikutnya tidak banyak bererti, kerena Belanda harus mengumpul kekuatanya terhadap Perang Diponogoro. Tetapi setelah Perang Diponogoro selesai, maka Belanda mengerahkan pasukan secara besar-besaran untuk menaklukan seluruh Sumatra Barat.

Imam Bonjol dan pasukanya tak mahu menyerah dan dengan gigih membendung kekuatan musuh. Namun Kekuatan Belanda sangat besar, sehingga satu demi satu daerah Imam Bonjol dapat direbut Belanda. Tapi tiga bulan kemudian Bonjol dapat direbut kembali. Ini terjadi pada tahun 1832.

Belanda kembali mengerahkan kekuatan pasukanya yang besar. Tak ketinggalan Gabernor Jeneral Van den Bosch ikut memimpin serangan ke atas Bonjol. Namun ia gagal. Ia mengajak Imam Bonjol berdamai dengan maklumat "Palakat Panjang", Tapi Tuanku Imam curiga.

Untuk waktu-wakyu selanjutnya, kedudukan Tuanku Imam Bonjol bertambah sulit, namun ia tak mahukan untuk berdamai dengan Belanda.Tiga kali Belanda mengganti panglima perangnya untuk merebut Bonjol, sebuah negeri kecil dengan benteng dari tanah liat. Setelah tiga tahun dikepung, barulah Bonjol dapat dikuasai, iaitu pada tanggal 16 Ogos 1837.

Pada tahun 1837, desa Imam Bonjol berjaya diambil alih oleh Belanda, dan Imam Bonjol akhirnya menyerah kalah. Dia kemudian diasingkan di beberapa tempat, dan pada akhirnya dibawa ke Minahasa. Dia diakui sebagai pahlawan nasional.

Sebuah bangunan berciri khas Sumatera melindungi makam Imam Bonjol. Sebuah relief menggambarkan Imam Bonjol dalam perang Padri menghiasi salah satu dinding. Di samping bangunan ini adalah rumah asli tempat Imam Bonjol tinggal selama pengasingannya

Riwayat Perjuangan

Tak dapat dimungkiri, Perang Paderi meninggalkan kenangan heroik sekaligus traumatis dalam memori bangsa. Selama sekitar 20 tahun pertama perang itu (1803-1821) praktis yang berbunuhan adalah sesama orang Minang dan Mandailing atau Batak umumnya.

Campur tangan Belanda dalam perang itu ditandai dengan penyerangan Simawang dan Sulit Air oleh pasukan Kapten Goffinet dan Kapten Dienema awal April 1821 atas perintah Residen James du Puy di Padang. Kompeni melibatkan diri dalam perang itu karena "diundang" kaum Adat.

Pada 21 Februari 1821, kaum Adat resmi menyerahkan wilayah darek (pedalaman Minangkabau) kepada Kompeni dalam perjanjian yang diteken di Padang, sebagai kompensasi kepada Belanda yang bersedia membantu melawan kaum Paderi. Perjanjian itu dihadiri juga oleh sisa keluarga Dinasti Pagaruyung di bawah pimpinan Sultan Muningsyah yang selamat dari pembunuhan oleh pasukan Paderi yang dipimpin Tuanku Pasaman di Koto Tangah, dekat Batu Sangkar, pada 1815 (bukan 1803 seperti disebut Parlindungan, 2007:136-41).

Perlawanan yang dilakukan oleh pasukan paderi cukup tangguh sehingga sangat menyulitkan Belanda untuk menundukkannya. Oleh sebab itu Belanda terpaksa mengadakan perjanjian damai dengan Tuanku Imam Bonjol pada tahun 1824. Gubernur Jendral Johannes van den Bosch pernah mengajak Tuanku Imam Bonjol berdamai dengan maklumat "Perjanjian Masang", karena disaat bersamaan Batavia juga kehabisan dana dalam menghadapi peperangan lain di Eropah dan Jawa seperti Perang Diponegoro. Tetapi perjanjian itu dilanggar sendiri oleh Belanda dengan menyerang Negeri Pandai Sikat.

Namun, sejak awal 1833 perang berubah menjadi perang antara kaum Adat dan kaum Paderi melawan Belanda, kedua pihak bahu-membahu melawan Belanda, Pihak-pihak yang semula bertentangan akhirnya bersatu melawan Belanda. Diujung penyesalan muncul kesadaran, mengundang Belanda dalam konflik justru menyengsarakan masyarakat Minangkabau itu sendiri . Bersatunya kaum Adat dan kaum Paderi ini dimulai dengan adanya kompromi yang dikenal dengan nama Plakat Tabek Patah yang mewujudkan konsensus Adat basandi Syarak, Syarak basandi Kitabullah (Adat berdasarkan Agama, Agama berdasarkan Kitabullah (Al-Qur'an)).

Dalam MTIB, terefleksi ada rasa penyesalan Tuanku Imam Bonjol atas tindakan kaum Paderi atas sesama orang Minang dan Mandailing. Tuanku Imam Bonjol sadar, perjuangannya sudah melenceng dari ajaran agama. "Adopun hukum Kitabullah banyak lah malampau dek ulah kito juo. Baa dek kalian?" (Adapun banyak hukum Kitabullah yang sudah terlangkahi oleh kita. Bagaimana pikiran kalian?), ungkap Tuanku Imam Bonjol seperti tertulis dalam MTIB (hal 39).

Penyesalan dan perjuangan heroik Tuanku Imam Bonjol bersama pengikutnya melawan Belanda yang mengepung Bonjol dari segala jurusan selama sekitar enam bulan (16 Maret-17 Agustus 1837) juga dapat menjadi apresiasinya akan kepahlawanannya menentang penjajahan[3]. — seperti rinci dilaporkan G. Teitler yang berjudul Akhir Perang Paderi: Pengepungan dan Perampasan Bonjol 1834-1837.

Belanda menyerang benteng kaum Paderi di Bonjol dengan tentara yang dipimpin oleh jenderal dan para perwira Belanda, tetapi yang sebagian besar terdiri dari berbagai suku, seperti Jawa, Madura, Bugis, dan Ambon. Dalam daftar nama para perwira pasukan Belanda adalah Mayor Jendral Cochius, Letnan Kolonel Bauer, Mayor Sous, Kapten MacLean, Letnan Satu Van der Tak, Pembantu Letnan Satu Steinmetz dan seterusnya, tetapi juga nama Inlandsche (pribumi) seperti Kapitein Noto Prawiro, Indlandsche Luitenant Prawiro di Logo, Karto Wongso Wiro Redjo, Prawiro Sentiko, Prawiro Brotto, dan Merto Poero.

Terdapat 148 perwira Eropa, 36 perwira pribumi, 1.103 tentara Eropa, 4.130 tentara pribumi, Sumenapsche hulptroepen hieronder begrepen (pasukan pembantu Sumenap alias Madura). Ketika dimulai serangan terhadap benteng Bonjol, orang-orang Bugis berada di bagian depan menyerang pertahanan Paderi.

Dari Batavia didatangkan terus tambahan kekuatan tentara Belanda. Tanggal 20 Juli 1837 tiba dengan Kapal Perle di Padang, Kapitein Sinninghe, sejumlah orang Eropa dan Afrika, 1 sergeant, 4 korporaals dan 112 flankeurs. Yang belakangan ini menunjuk kepada serdadu Afrika yang direkrut oleh Belanda di benua itu, kini negara Ghana dan Mali. Mereka disebut Sepoys dan berdinas dalam tentara Belanda.

Demikianlah Perjuangan Tuanku Imam Bonjol , dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Salam Perjuangan!